Gerimis
mesra merayu senja
Merintik
manja tanpa tawa
Membujuk
senja agar tetap meraja
Agar langit
tak jadi pekat
Agar wajah
tak lagi pucat
Agar memori
tetap bernostalgia
Mengelupas
sangat keras dan kuat
Sejenak
tawaran dipikirkan
Tapi senja
bukan penguasa
Dia hanya
panggung pementasan
Begitu juga
gerimis
Saat rintik
menjadi deras
Gerimispun
tak lagi mesra
Deras
membawa topeng
Menyamarkan
lelah dan tangis
Walaupun
tidak buat mereka yang berbeda
Gelap
datang
Tapi
ternyata tak sekelam yang ditakutkan gerimis
Terhampar
kelembutan diantara kesunyian
Bau tanah
bercampur bisikan
Membujuknya
tetap ada agar pagi tak tiba
Tetapi lagi
penguasa bertindak semena-mena
Mencabut
mimpi dengan cerah
Hawa dingin
menyapa
Dibalik
senyum matahari yang ceria
Membuat
wajah baru
Hari baru
Dan mungkin
nasib baru
Sebagian
berangkat dengan perut penuh
Sebagian
hanya terisi kopi
Sebagian
lagi hanya diisi doa
Doa singkat
yang sama setiap paginya
Tuhan
terima kasih memberiku kesempatan sekali lagi
Mudah-mudahan
aku bisa merubah nasibku
Entah
sampai kapan doa ini akan selalu sama
Sampai
nasibnya berubah atau sampai tak ada waktu lagi untuk berdoa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar